Jangan di Luar Tuhan

shares |

Perumpamaan tentang anak yang hilang pasti sudah tidak asing bagi kita. Seorang anak yang meminta bagian warisannya, pergi dari rumah ayahnya dan menghabiskan seluruh harta kekayaannya untuk kesenangannya sendiri.

Jangan di Luar Tuhan

Pada awalnya, kehidupan di luar sangat menarik baginya. Ia memiliki banyak teman, bisa berpesta, dan berfoya-foya menghamburkan uang. Akan tetapi, kesenangan itu hanya sesaat saja. Ketika uangnya mulai habis, teman-temannya mulai meninggalkannya.

Ketika hartanya sudah tidak tersisa, ia pun berakhir dengan menjadi penjaga babi demi bertahan hidup. Saat kelaparan melandanya, ia mengingat alangkah enaknya buruh upahan di rumah ayahnya.

Mungkin kita pernah seperti anak bungsu ini. Iblis menggoda kita dengan tawaran dunia dan kita mulai melangkah keluar dari Tuhan. Kita terjatuh ke dalam perangkapnya. Di luar perlindungan Tuhan, kita pun terjebak masalah berat dan seolah tidak ada jalan keluar.

Ya, semua pilihan ada di tangan kita, karena Tuhan tidak pernah memaksa kita. Namun, meski Tuhan memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih hidup seperti apa yang akan kita jalani, ingatlah bahwa apa yang kita pilih di dunia ini menentukan pilihan kita di surga.

Ketika kita terpisah dari Tuhan dan meninggalkan-Nya, pada awalnya mungkin tampak baik-baik saja, tetapi pada akhirnya kita akan kehilangan berkat, martabat dan kebahagiaan kita. Amsal 14:12 mengatakan, “ Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Related Posts

0 komentar: